Selasa, 25 September 2018

PENGERTIAN IMAN DALAM AGAMA ISLAM

Tidak ada komentar:
Pengertian Iman Dalam Agama Islam - Iman (bahasa Arab:الإيمان) secara etimologis berarti 'percaya'. Perkataan iman (إيمان) diambil dari kata kerja 'aamana' (أمن) -- yukminu' (يؤمن) yang berarti 'percaya' atau 'membenarkan'.
Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman adalah "Keyakinan dalam hati, Perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat". Para ulama salaf menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang". Ini adalah definisi menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Al Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, madzhab Zhahiriyah dan segenap ulama selainnya.
Dengan demikian definisi iman memiliki 5 karakter: keyakinan hati, perkataan lisan, dan amal perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.

“Agar bertambah keimanan mereka di atas keimanan mereka yang sudah ada.”
—QS. Al Fath [48] : 4
Imam Syafi’i berkata, “Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Dia bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.” Imam Ahmad berkata, “Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Ia bertambah dengan melakukan amal, dan ia berkurang dengan sebab meninggalkan amal.” Imam Bukhari mengatakan, “Aku telah bertemu dengan lebih dari seribu orang ulama dari berbagai penjuru negeri, aku tidak pernah melihat mereka berselisih bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.”

Perkataan iman yang berarti 'membenarkan' itu disebutkan dalam al-Quran, di antaranya dalam Surah At-Taubah ayat 62 yang bermaksud: "Dia (Muhammad) itu membenarkan (mempercayai) kepada Allah dan membenarkan kepada para orang yang beriman." Iman itu ditujukan kepada Allah , kitab kitab dan Rasul. Iman itu ada dua Iman Hak dan Iman Batil.

Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan. Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatan sama dalam satu keyakinan, maka orang - orang beriman adalah mereka yang di dalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakanya sama, maka orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang memiliki prinsip. atau juga pandangan dan sikap hidup.

Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib: "Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota." Aisyah r.a. berkata: "Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota." Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: "Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota)."
Jadi,dapat di simpukan,seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi unsur unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, unsur unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.

Keimanan adalah hal yany paling mendasar yang harus dimiliki seseorang. Allah memerintahkan agar ummat manusia beriman kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa : 136)

Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa Bila kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia.Maka pegang teguhlah keimanan yang sudah anda miliki!!!

Sumber : http://abd-holikulanwarislamic.blogspot.com/2016/02/pengertian-iman-dalam-agama-islam.html

PENGERTIAN IHSAN

Tidak ada komentar:
Ihsan itu ialah bahawa “kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya,tetapi jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.”
Ihsan juga adalah melakukan ibadah dengan khusyuk,ikhlas dan yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi apa yang dilakukannya.
Hadist riwayat muslim”dari Umar bin Khatab ia berkata bahwa mengabdikan diri kepada Allah hendaklah dengan perasaan seolah-olah anga melihat-Nya,maka hendaklah anda merasa bahwa Allah melihatmu.”
Ihsan  ( ناسحI ) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “kesempurnaan” atau “terbaik.” Dalam terminologi agama Islam, Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.
Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu Iman,Islam, dan Ihsan. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian
terbesar dari keislamannya.
Lalu bagaimana caranya? Dalam mengejawantahkan ihsan bagi mahluk sosial seperti manusia, khususnya kaum muslim ialah dengan cara berbuat baik. Karena dengan pemahaman ihsan ini kita merasa selalu diawasi oleh Allah Yang Maha Melihat, dengan begitu kita tidak akan mau melakukan perbuatan buruk, kalaupun sampai terbersit maka tetap saja kita tidak akan mau mengerjakannya disebabkan Ihsan tadi. Selain berbuat baik Ihsan juga merupakan salah satu cara agar kita bisa khusyuk dalam beribadah kepada Allah. Kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah SWT yang Maha Melihat selalu melihat kita.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS.Qaaf : 16-18)
“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”(QS.Al Fajr : 14)
Orang yang ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya.
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS.Al-Baqarah:284).
Dalam Al-Qur`an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an. Rasulullah pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab, ia merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Puncak semua pengajaran yang dilakukan Rasul pun mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia. Bahkan, di antara hadist-hadist mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah saw. menerangkan mengenai ihsan ketika ia menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang ihsan dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril, dengan mengatakan, “Engkau menyembah Allah seakan- akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka
sesungguhnya Dia melihatmu.”(HR. Muslim )
Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah swt.
Di kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik.”(HR. Muslim )
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat ihsan, serta memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”(An-Nahl: 90 )
Tiga Aspek Pokok Dalam Ihsan
Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal inilah yang menjadi pokok bahasan dalam ihsan.
1.      Ibadah
Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi,
“Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yangmubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.
2. Muamalah
Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah swt. pada surah An-Nisaa’ ayat 36, yang     berbunyi sebagai berikut, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun     dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.”
Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut:
a.       ihsan kepada kedua orang tua
b.      ihsan kepada karib kerabat
c.       ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin
d.      ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat
e.       ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya
f.       ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia
g.      ihsan dalam hal muamalah
h.      ihsan dengan berlaku baik kepada binatang
3. Akhlak
Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.
Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang —yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya– maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits, “Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Ciri-ciri Kelebihan Ihsan :
-  Mentaati perintah dan larangan Allah SWT dengan ikhlas
-  Senantiasa amanah ,jujur dan menepati janji
-  Merasakan nikmat dan haus akan ibadah
-  Mewujudkan keharmonisan masyarakat
-  Mendapat ganjaran pahala dari Allah SWT.
Cara Penghayatan Ihsan Dalam kehidupan :
-  Menyembah dan beribadah kepada Allah
-  Memelihara kesucian aqidah tidak terbatal
-  Mengerjakan ibadah fardhu ain dan sunat
-  Hubungan baik dengan keluarga,tetangga dan masyarakat
-  Melakukan perkara-perkara yang baik
-  Mengamalkan sifat-sifat mahmudah
-  Bersyukur atas nikmat Allah SWT.
Kesimpulannya, ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapapun kita, apapun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya. Semoga kita semua dapat mencapai hal ini, sebelum Allah swt. mengambil ruh ini dari kita.

Senin, 24 September 2018

Benarkah Jenggot Tempat Bergantung Malaikat?

Tidak ada komentar:


SahabatDakwah - Tersebar suatu keyakinan di tengah masyarakat awam bahwasanya ada satu malaikat bergelantungan di setiap satu helai jenggot seseorang. Yang lain lagi mengatakan bahwa yang bergelantungan di jenggot adalah bidadari. Lalu ini dijadikan alasan untuk menyemangati para lelaki untuk memelihara jenggot.
Apakah benar demikian?
Membiarkan jenggot dan tidak memotongnya adalah sebuah kewajiban bagi lelaki Muslim. Banyak dalil-dalil shahih yang mendasari hal ini.

Namun mengenai keyakinan yang kami sebutkan di atas, kami telah melakukan penelusuran -dengan ilmu kami yang sedikit dan terbatas- terhadap kitab-kitab hadits dan kitab-kitab fikih, namun sama sekali tidak kami temukan riwayat yang redaksinya demikian atau bahkan yang maknanya mendekati keyakinan tersebut.

Yang kami dapati hanya sekedar kisah yang tanpa referensi dan beredar dengan banyak redaksi. Diantaranya berbunyi:

أن رجلا كان له شعرتان في وجهه فنتفهما فأخبره النبي صلى الله عليه وسلم أن الملائكة كانت تداعبهما
“ada seorang lelaki yang jenggotnya hanya dua helai, maka ia mencabutnya. Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan ia bahwa Malaikat itu biasa bermain-main dengan kedua helai jenggotnya”.

Ada juga yang menyebarkan kisah ini dengan redaksi:
في كل شعرة ملائكة
“di setiap helai rambut (jenggot) ada Malaikat”

Semua ini –wallahu a’lam– hanyalah kisah-kisah dusta tanpa referensi dan tanpa landasan yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
Syaikh Abu Umar Usamah Al Utaibi hafizhahullah ketika ditanyakan mengenai hal ini beliau berkata:
“perkataan ini masyhur beredar di kalangan tukang cerita yang jahil misalnya di kalangan jama’ah tabligh. Dan ini adalah perkataan yang munkar dan batil. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk membiarkan jenggot maka bagaimana mungkin ada orang yang mencabutnya namun tidak beliau ingkari? Lalu aku pernah mendengar kisah yang lafadznya: ‘ada seorang lelaki yang jenggotnya hanya dua helai, maka ia mencabutnya. Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan ia bahwa Malaikat itu biasa bermain-main dengan kedua helai jenggotnya’. Ini batil dari segala sisi. Dan aku tidak mengetahui ada sahabat yang hanya memiliki jenggot dua helai. Adapun wajibnya membiarkan jenggot dan urgensi memeliharanya, ini semua tidak membutuhkan hadits-hadits palsu ataupun kisah-kisah munkar yang dibuat-buat”

Dengan demikian, keyakinan bahwa ada malaikat atau bidadari bergelantungan di setiap helai jenggot, merupakan hal yang tidak ada asalnya dan tidak bisa dibenarkan. Apalagi kalau sempat menyebutkan itu merupakan hadits Nabi shallallahu alaihi wassalam.

Dan perlu kami ingatkan betapa fatalnya perbuatan berdusta atas nama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dengan membuat hadits palsu atau semacamnya, karena beliau bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
barangsiapa berdusta atas namaku secara sengaja, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka(HR. Bukhari – Muslim).

Wallahu a’lamu bish shawab.

#Sumber: muslim.or.id

RINGKASAN RIWAYAT HIDUP 4 IMAM PENGASAS MAZHAB

Tidak ada komentar:

 Imam Abu Hanifah [80H/699M– 150H/767M]

Imam Abu Hanifah atau nama sebenarnya Numan bin Tsabit bin Zhuthi' lahir pada tahun 80H/699M di Kufah, Iraq, sebuah bandar yang sudah sememangnya terkenal sebagai pusat ilmu Islam pada ketika itu. Ianya diasaskan oleh ‘Abdullah ibn Mas‘ud radhiallahu ‘anh (32H/652M), seorang sahabat zaman Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam. Ayahnya seorang pedagang besar, sempat hidup bersama ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anh. Imam Abu Hanifah sekali-sekala ikut serta dalam urusniaga ayahnya akan tetapi minatnya yang lebih besar ialah ke arah membaca dan menghafal Al-Quran.

Imam Abu Hanifah pada satu hari telah berjumpa dengan seorang tokoh agama yang masyhur pada ketika itu bernama as-Sya’bi. Melihatkan kepintaran dan kecerdasan luar biasa yang terpendam dalam Imam Abu Hanifah, as-Sya’bi menasihatkan beliau agar lebih banyak mencurahkan usaha ke dalam bidang ilmu-ilmu Islam. Dengan nasihat dan dorongan as-Sya’bi, Imam Abu Hanifah mula menceburkan diri secara khusus mempelajari ilmu-ilmu Islam.

Imam Abu Hanifah mula belajar dengan mendalami ilmu-ilmu qiraat, ilmu bahasa Arab ilmu kalam dan lain-lain. Akan tetapi bidang ilmu yang paling diminatinya ialah ilmu hadith dan fiqh. Beliau banyak meluangkan masa dan tenaga untuk mendalaminya. Imam Abu Hanifah meneruskan pembelajarannya dengan bergurukan kepada as-Sya’bi dan beberapa tokoh ilmuan lain di Kufah. Menurut riwayat, jumlah gurunya di Kufah sahaja berjumlah 93 orang.

Beliau kemudiannya berhijrah ke bandar Basrah di Iraq, untuk berguru bersama Hammad bin Abi Sulaiman, Qatadah dan Shu’bah. Setelah sekian lama berguru dengan Shu’bah yang pada ketika itu terkenal sebagai Amir al-Mu’minin fi Hadith (pemimpin umat dalam bidang hadith), beliau diizinkan gurunya untuk mula mengajar hadith kepada orang ramai. Berkata Shu’bah:

“Sebagaimana aku ketahui dengan pasti akan kesinaran cahaya matahari, aku juga ketahui dengan pasti bahawa ilmu dan Abu Hanifah adalah sepasangan bersama.”

Imam Abu Hanifah tidak hanya berpuas hati dengan pembelajarannya di Kufah dan Basrah di Iraq. Beliau kemudiannya turun ke Makkah dan Madinah untuk menuntut ilmu lagi. Di sana beliau duduk berguru kepada ‘Atha’ bin Abi Rabah. Kemudiannya Imam Abu Hanifah duduk pula bersama Ikrimah, seorang tokoh besar agama di Makkah yang juga merupakan anak murid kepada ‘Abdullah ibn ‘Abbas, ‘Ali bin Abi Thalib ra, Abu Hurairah ra dan ‘Abdullah ibn ‘Umar radhiallahu ‘anhum. Kehandalan Imam Abu Hanifah dalam ilmu-ilmu hadith dan fiqh diiktiraf oleh Ikrimah sehingga beliau kemudiannya membenarkan Imam Abu Hanifah menjadi guru kepada penduduk Makkah.

Imam Abu Hanifah kemudiannya meneruskan pengajiannya di Madinah bersama Baqir dan Ja’afar as-Shadiq. Kemudiannya beliau duduk bersebelahan dengan Imam Malik bin Anas, tokoh besar kota Madinah ketika itu. Walaupun Imam Abu Hanifah 13 tahun lebih tua daripada Imam Malik, ini tidak menghalangnya untuk turut serta belajar.


Apabila guru kesayanganya Hammad meninggal dunia di Basrah pada tahun 120H/738M, Imam Abu Hanifah telah diminta untuk mengganti kedudukan Hammad sebagai guru dan sekaligus tokoh agama di Basrah. Melihatkan tiada siapa lain yang akan meneruskan perjuangan Hammad, Imam Abu Hanifah bersetuju kepada jawatan tersebut.

Mulai di sinilah Imam Abu Hanifah mengajar dan menjadi tokoh besar terbaru dunia Islam. Orang ramai dari serata pelusuk dunia Islam datang untuk belajar bersamanya. Di samping mengajar, Imam Abu Hanifah adalah juga seorang pedagang dan beliau amat bijak dalam mengadili antara dua tanggungjawabnya ini sebagaimana diterangkan anak muridnya al-Fudail ibn ‘Iyyadh:

“Adalah Imam Abu Hanifah seorang ahli hukum, terkenal dalam bidang fiqh, banyak kekayaan, suka mengeluarkan harta untuk sesiapa yang memerlukannya, seorang yang sangat sabar dalam pembelajaran baik malam atau siang hari, banyak beribadat pada malam hari, banyak berdiam diri, sedikit berbicara terkecuali apabila datang kepadanya sesuatu masalah agama, amat pandai menunjuki manusia kepada kebenaran dan tidak mahu menerima pemberian penguasa.”

Pada zaman pemerintahan Abbasid, Khalifah al-Mansur telah beberapa kali meminta beliau menjawat kedudukan Qadhi kerajaan. Imam Abu Hanifah berkeras menolak tawaran itu. Jawapan Abu Hanifah membuatkan al-Mansur marah lalu dia menghantar Imam Abu Hanifah ke penjara. Akan tetapi tekanan daripada orang ramai menyebabkan al-Mansur terpaksa membenarkan Imam Abu Hanifah meneruskan pengajarannya walaupun daripada dalam penjara. Apabila orang ramai mula mengerumuni penjara untuk belajar bersama Imam Abu Hanifah,al-Mansur merasakan kedudukannya mula tergugat. Al-Mansur merasakan Imam Abu Hanifah perlu ditamatkan hayatnya sebelum terlambat.

Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal dunia pada bulan Rejab 150H/767M (ketika berusia 68 tahun), yakni ketika berada di dalampenjara disebabkan termakan makanan yang diracuni orang. Dalam riwayat lain disebutkan bahawa beliau dipukul dalam penjara sehingga mati. Kematian tokoh ilmuan Islam ini amat dirasai oleh dunia Islam. Solat jenazahnya dilangsungkan 6 kali, setiapnya didirikan oleh hampir 50,000 orang jamaah. Abu Hanifah mempunyai beberapa orang murid yang ketokohan mereka membolehkan ajarannya diteruskan kepada masyarakat. Antara anak-anak murid Imam Abu Hanifah yang ulung ialah Zufar (158H/775M), Abu Yusuf (182H/798M) dan Muhammad bin Hasan as-Syaibani(189H/805M).


Imam Malik bin Anas [93H/711M – 179H/796M]

Imam Malik bin Anas lahir di Madinah pada tahun 93H/711M. Beliau dilahirkan di dalam sebuah kota yang merupakan tempat tumbuhnya Islam dan berkumpulnya generasi yang telah dididik oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, radhiallahu ‘anhum. Sejarah keluarganya juga ada hubungkait dengan ilmu Islam, dengan datuknya sendiri adalah seorang perawi dan penghafal hadith yang terkemuka. Pakciknya juga, Abu Suhail Nafi’ adalah seorang tokoh hadith kota Madinah pada ketika itu dan dengan beliaulah Malik bin Anas mula mendalami ilmu-ilmu agama, khususnya hadith. Abu Suhail Nafi’ ialah seorang tabi‘in yang sempat menghafal hadith daripada‘Abdullah ibn ‘Umar, ‘Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Salamah, Abu Hurairah dan Abu Sa‘id al-Khudri radhiallahu ‘anhum.





Selain Nafi’, Imam Malik bin Anas juga duduk berguru dengan Jaafar as-Shadiq, cucu kepada al-Hassan, cucu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Imam Malik juga duduk belajar di Masjid Nabawi, Madinah dan berguru dengan Muhammad Yahya al-Ansari, Abu Hazim Salmah ad-Dinar, Yahya bin Saad dan Hishambin ‘Urwah. Mereka ini semua ialah anak murid kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Suasana kehidupan Imam Malik bin Anas di Madinah yang ketika itu dipenuhi dengan para tabi‘in amatlah menguntungkannya. Para tabi‘in ini adalah mereka yang sempat hidup bersama sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sempat belajar, mendengar hadith dan mengamalkan perbuatan para sahabat secara terus. Inilah antara sebab kenapa Imam Malik bin Anas tidak pernah meninggalkan Madinah kecuali apabila pergi menunaikan ibadat hajinya.

Imam Malik bin Anas kemudiannya mengambil alih peranan sebagai tokoh agama di Masjid Nabawi, Madinah. Ajarannya menarik sejumlah orang ramai daripada pelbagai daerah dunia Islam. Beliau juga bertindak sebagai Mufti Kota Madinah pada ketika itu. Imam Malik juga ialah antara tokoh yang terawal dalam mengumpul dan membukukan hadith-hadith Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam kitabnya al-Muwattha’. Kitabnya ini menjadi hafalan dan rujukan orang ramai sehinggakan ia pernah dikatakan oleh Imam as-Syafi‘e sebagai:

“Tidak wujud sebuah buku di bumi yang paling hampir kepada al-Quran melainkan kitab Imam Malik ini.”

Antara tokoh besar yang duduk belajar bersama Imam Malik ialah Imam Abu Hanifah dari Kufah, Iraq. Selain itu diriwayatkan juga bahawa sebanyak 1,300 tokoh-tokoh lain yang duduk bersama menuntut ilmu bersama Imam Malik di Masjid Nabawi. Antaranya termasuklah Muhammad bin Idris, yang kemudiannya terkenal dengan gelaran Imam as-Syafi‘e. Ketinggian ilmu Imam Malik bin Anas pernah diungkap oleh Imam Ahmad bin Hanbal sebagai:

“Imam Malik adalah penghulu daripara penghulu ahli ilmu dan beliau pula seorang imam dalam bidang hadith dan fiqh. Siapakah gerangan yang dapat menyerupai Imam Malik?”

Imam Malik pernah dihukum oleh gabenor Kota Madinah pada tahun 147H/764M kerana telah mengeluarkan fatwa bahawa hukum thalaq yang cuba dilaksanakan oleh kerajaan Abbasid sebagai tidak sah. Kerajaan Abbasid ketika itu telah membuat fatwa sendiri bahawa semua penduduk perlu taat kepada pemimpin dan barangsiapa yang enggan akan terjatuh thalaq ke atas isterinya. Memandangkan rakyat yang lebih taatkan ulama' daripada pemimpin, pemerintah Abbasid telah memaksa Imam Malik untuk mengesahkan fatwa mereka. Imam Malik enggan, malah mengeluarkan fatwa menyatakan bahawa thalaq sedemikian tidak sah (tidak jatuh thalaqnya). Imam Malik ditangkap dan dipukul oleh gabenor Madinah sehingga tulang bahunya patah dan terkeluar daripada kedudukan asalnya. Kecederaan ini amatlah berat sehinggakan beliau tidak lagi dapat bersolat dengan memegang kedua tangannya di dada, lalu dibiarkan sahaja terkulai di tepi badannya.

Imam Malik kemudiannya dibebaskan dari penjara dan beliau terus kembali mengajar di Madinah sehinggalah beliau meninggal dunia pada 11 Rabiul-Awwal, tahun 179H/796M, ketika berusia 86 tahun (Hijriah). Di antara anak-anak murid beliau yang masyhur ialah ‘Abdarrahman bin al-Qasim al-Tasyri (191H/807M), Ibn Wahhab Abu Muhammad al-Masri (199H/815M) dan Yahya bin Yahya al-Masmudi (234H/849M).





Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’e [150H/767M – 204H/820M]

Imam as-Syafi’e lahir di Gaza, Palestin pada tahun 150H/767M. Nama sebenarnya ialah Muhammad bin Idris as-Syafi‘e. Beliau mempunyai pertalian darah Quraisy dan hidup tanpa sempat melihat ayahnya. Pada umur 10 tahun ibunya membawanya ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji dan selepas itu beliau tetap berada di sana untuk menuntut ilmu. Di Makkah Imam as-Syafi’e memulakan perguruannya dengan Muslim bin Khalid al-Zanji, yakni mufti Kota Makkah ketika itu.

Kitab ilmu yang paling terkemuka pada ketika itu ialah al-Muwattha’ karangan Imam Malik bin Anas, dan Imam as-Syafi’e dalam usia 15 tahun telah pun menghafal keseluruhan kitab tersebut. Imam as-Syafi’e kemudiannya berhijrah ke Madinah untuk berguru pula dengan penulis kitab itu sendiri, yakni Imam Malik bin Anas. Ketika itu Imam as-Syafi’e baru berumur 20 tahun dan beliau terus duduk bersama Imam Malik sehinggalah kewafatannya pada tahun 179H/796M. Ketokohan Imam as-Syafi’e sebagai murid terpintar Imam Malik bin Anas mulai diiktiraf ramai. Imam as-Syafi‘e mengambil alih sebentar kedudukan Imam Malik bin Anas sebagai guru di Masjid Nabawi di Madinah sehinggalah beliau ditawarkan satu kedudukan jawatan oleh Gabenor Yaman. Jawatan Imam as-Syafi’e di Negeri Yaman tidak lama kerana beliau telah difitnah sebagai pengikut mazhab Syi‘ah. Selain itu pelbagai konspirasi lain dijatuhkan ke atasnya sehinggalah beliau dirantai dan dihantar ke penjara di Baghdad, yakni pusat pemerintahan Dinasti Abbasid ketika itu.

Imam as-Syafi’e dibawa menghadap kepada Khalifah Harun ar-Rashid dan beliau berjaya membuktikan kebenaran dirinya. Kehandalan serta kecekapan Imam as-Syafi’e membela dirinya dengan pelbagai hujjah agama menyebabkan Harun ar-Rashid tertarik kepadanya. Imam as-Syafi’e dibebaskan dan dibiarkan bermastautin di Baghdad. Di sini Imam as-Syafi’e telah berkenalan dengan anak murid Imam Abu Hanifah dan duduk berguru bersama mereka, terutamanya Muhammad bin al-Hasan as-Syaibani. Suasana ini memberikan kelebihan yang penting bagi Imam as-Syafi’e, iaitu beliau berkesempatan untuk belajar dan membanding antara dua ajaran Islam, yakni ajaran Imam Malik bin Anas dan ajaran Imam Abu Hanifah.

Pada tahun 188H/804M, Imam as-Syafi’e berhijrah pula ke Mesir. Sebelum itu beliau singgah sebentar di Makkah dan di sana beliau diberi penghormatan dan dipelawa memberi kelas pengajian agama. Imam as-Syafi’e kini mula diiktiraf sebagai seorang imam dan beliau banyak meluahkan usaha untuk cuba menutup jurang perbezaan di antara ajaran Imam Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah. Usahanya ini tidak disambut baik oleh para penduduk Makkah kerana kebiasaan mereka adalah kepada ajaran Imam Malik bin Anas.

Pada tahun 194H/810M, Imam as-Syafi’e kembali semula ke Baghdad dan beliau dipelawa untuk memegang jawatan Qadhi bagi Dinasti Abbasid. Beliau menolak dan hanya singgah selama 4 tahun di Baghdad. Imam as-Syafi’e kemudian kembali ke Mesir dan memusatkan ajarannya di sana pula. Daud bin ‘Ali pernah ditanya akan kelebihan Imam as-Syafi’e berbanding tokoh-tokoh lain pada ketika itu, maka beliau menjawab:

"As-Syafi‘e mempunyai beberapa keutamaan, berkumpul padanya apa yang tidak terkumpul pada orang lain. Beliau seorang bangsawan, beliau mempunyai agama dan i'tiqad yang sebenar, seorang yang sangat murah hati, mengetahui hadith sahih dan hadith dhaif, nasikh, mansukh, menghafal al-Quran dan hadith, perjalanan hidup para Khulafa' ar-Rashidin dan amat pandai pula mengarang."


Dalam usahanya untuk cuba menutup jurang perbezaan antara ajaran Imam Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah, Imam as-Syafi’e menghadapi banyak tentangan daripada para pengikut Mazhab Maliki yang amat taksub kepada guru mereka. Pada satu malam, dalam perjalanan balik ke rumah dari kuliah Maghribnya di Mesir, Imam as-Syafi’e telah diserang dan dipukul orang sehingga menyebabkan kematiannya. Pada ketika itu Imam as-Syafi’e juga sedang menghadapi penyakit buasir yang agak serius.

Imam as-Syafi’e meninggal dunia pada 29 Rejab tahun 204H/820M di Mesir ketika berumur 54 tahun (Hijriah). Beliau meninggalkan kepada dunia Islam sebuah kitab yang paling agung dalam bidang usul fiqh berjudul ar-Risalah. Kitab ini adalah yang terawal dalam menyatakan kaedah-kaedah mengeluarkan hukum daripada sesebuah nas al-Qur’an dan as-Sunnah. Selain itu Imam as-Syafi’e juga meninggalkan kitab fiqhnya yang termasyhur berjudul al-Umm. Ajaran Imam as-Syafi’e diteruskan oleh beberapa anak muridnya yang utama seperti Abu Yaaqub al-Buwayti (231H/846M), Rabi’ bin Sulaiman al-Marali (270H/884M) dan Abu Ibrahim bin Yahya al-Muzani (274H/888M).


Imam Ahmad bin Hanbal [164H/781M – 241H/856M]

Imam Abu ‘Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dilahirkan di Baghdad, Iraq, pada tahun 164H/781M. Ayahnya seorang mujahid Islam dan meninggal dunia pada umur muda, iaitu 30 tahun. Ahmad kemudiannya dibesarkan oleh ibunya Saifiyah binti Maimunah. Imam Ahmad bin Hanbal menghafal al-Qur’an sejak kecil dan pada umurnya 16 tahun beliau sudah menjadi penghafal hadith yang terkenal. Imam Ahmad bin Hanbal meneruskan pengajian hadithnya dengan sekian ramai guru dan beliau pada akhir hayatnya dijangkakan telah menghafal lebih daripada sejuta hadith termasuk barisan perawinya.

Pada tahun 189H/805M Imam Ahmad bin Hanbal berhijrah ke Basrah dan tidak lama kemudian ke Makkah dan Madinah untuk menuntut ilmu. Di sana beliau sempat duduk berguru dengan Imam as-Syafi‘e. Sebelum itu guru-gurunya yang masyhur ialah Abu Yusuf, Husain ibn Abi Hazim al-Washithi, ‘Umar ibn ‘Abdullah ibn Khalid, ‘Abdurrahman ibn Mahdi dan Abu Bakar ibn ‘Iyasy. Pada tahun 198H Imam Ahmad bin Hanbal ke negeri Yaman pula untuk berguru dengan ‘Abdurrazzaq ibn Humam, seorang ahli hadith yang besar ketika itu, terkenal dengan kitabnya yang berjudul al-Musannaf. Dalam perjalanannya ini Imam Ahmad mula menulis hadith-hadith yang dihafalnya setelah sekian lama.

Imam Ahmad bin Hanbal kembali semula ke Baghdad dan mula mengajar. Kehebatannya sebagai seorang ahli hadith dan pakar fiqh menarik perhatian orang ramai dan mereka mula mengerumuninya untuk belajar bersama. Antara anak muridnya yang kemudian berjaya menjadi tokoh hadith terkenal ialah al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud. al-Qasim ibn Salam pernah berkata:

“Ahmad bin Hanbal adalah orang yang paling ahli dalam bidang hukum dan aku tidak melihat ada orang yang lebih mengetahui tentang as-Sunnah selain beliau. Beliau tidak pernah bersenda gurau, selalu berdiam diri, tidak memperkatakan apa-apa selain ilmu.”

Imam Ahmad bin Hanbal pernah hidup di dalam penjara kerana kekerasannya menentang Mazhab Mu’tazilah yang diterima oleh pemerintah Abbasid ketika itu.


Mereka (pemerintah) memaksa Imam Ahmad mengesahkan mazhab baru tersebut. Imam Ahmad enggan dan ini menyebabkan beliau dirotan di dalam penjara sehingga tidak sedarkan diri.

Akibat ketegasan Imam Ahmad bin Hanbal serta tekanan daripada para orang ramai akhirnya menyebabkan pihak pemerintah Abbasid telah terpaksa membebaskan beliau dari penjara. Imam Ahmad kemudiannya meneruskan pengajarannya kepada orang ramai sehinggalah kematiannya pada tahun 241H/856M, ketika berusia 77 tahun Hijriah. Imam Ahmad bin Hanbal meninggalkan kepada dunia Islam kitab hadithnya yang terkenal iaitu "al-Musnad" yang mengandungi lebih kurang 30,000 hadith Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan atsar para sahabat radhiallahu ‘anhum. Dua orang anaknya yang utama meneruskan perjuangan ayah mereka, iaitu ‘Abdullah bin Ahmad dan Shaleh bin Ahmad.

 
back to top